Mahasiswa SI

Kamis, 11 Juni 2015

B29 , Negeri diatas Awan

                               


“Terkadang ada saat dimana gelap malam seakan mampu mengerti kamu lebih dari yang lain. Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian.” ― Rohmatikal Maskur

3 Juni 2015 lalu, saya bersama 18 orang yang lain memutuskan memulai sebuah petualangan. Sekitar pukul 20.00 rombongan touring kami berkumpul terlebih dahulu di bundaran ITS. Rombongan ini berisi hanya 2 orang cewek, termasuk saya, hmmm ya cukup ekstrim. Apalagi cowok-cowok mayoritas memakai jaket dan atribut berwarna hitam. Semakin ngeri. Sekitar 30 menit, kami menunggu yang lain datang. Ketika sudah lengkap , rombongan berangkat menuju rumah Ammar, komting SI 2014 untuk briefing dan berdoa. Pukul 21.00 rombongan pun berangkat menuju Waru untuk menghapiri Inan dan Bram yang menunggu disana. Namun , baru 1/4 jalan menuju Waru, motor Khai beberapa kali mati. Dengan kejadian itu, kami mempertimbangkan untuk memakai motor Irma yang sebelumnya dititipkan di rumah Ammar. Ammar, Pras, Khai dan saya kembali menuju rumah Ammar , sedangkan yang lain langsung menuju Waru. Setelah menukarkan motor kami langsung melanjutkan perjalanan. Kami berhenti di depan minimarket. Di pemberhentian ini, kami membeli kopi untuk sekedar menunda rasa ngantuk. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan yang masih sangat panjang. Sejauh itu, kondisi jalan lancar dan tidak macet. 

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, pukul 01.30 kami tiba di Probolinggo. Ujik mengajak kami mampir ke rumahnya untuk istirahat. Lagi lagi kopi adalah suguhan yang pas untuk perjalanan jauh ini. Namun ada juga teh hangat yang bisa menjaga tubuh tetap hangat. Tak ketinggalan gorengan yang bisa mengganjal perut. Terima kasih ibunya Ujik ^^


Setelah menghabiskan suguhan di rumah Ujik, kami melanjutkan perjalanan pada pukul 02.00 . Perjalanan masih lumayan panjang. Untuk menuju lokasi B29, kami melewati jalanan yang sangat gelap, tidak ada lampu, digin, terjal, sehingga beberapa dari kami terpaksa menuntun motor di tengah kegelapan. Namanya juga teman susah, kami semua memutuskan untuk menuntunnya bersama-sama. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan menaiki motor menuju puncak. Sekitar pukul 5.00 kami berhasil memasuki kawasan B29. Kami berhenti sejenak di depan sebuah gubuk. Tiba-tiba ada segerombolan orang bermotor dan memakai sarung yang dikalungkan dileher dan ada yang disilangkan di badannya mendatangi kami. Mereka adalah tukang ojek yang menawarkan jasanya pada kami. Namun, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan melihat kondisi nantinya. Karena jam masih menunjukkan pukul 5 lebih , masjid adalah tujuan kami selanjutnya. Tukang ojek tadi membuntuti kami, dan menunggu didepan masjid.
Setelah sholat subuh, perjalanan harus dilanjutkan sebelum kami kehilangan sunrise yang memang sudah ditunggu-tunggu. Inan, Adrian, Ammar, Irma dan saya memutuskan untuk memakai jasa ojek . Tarif ojek cukup mahal yaitu 50 ribu sekali jalan sampai puncak. Yang lain memutuskan untuk memakai motor. Benar saja tarif ojek mahal. Medan yang dilalui curam dan terjal. Saya terheran-heran melihat tukang ojek dengan lihainya membelokkan stang di jalanan yang seperti itu. "Sudah biasa mbak..." katanya. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan yang sangat cantik. Apalagi saat itu matahari sedang malu-malu kucing menebarkan sinarnya. Sayangnya saya tak sempat memotret pemandangan tersebut. Bagaimana tidak, menaiki ojek di jalanan terjal memaksa saya untuk berpegangan dan tak sempat membuka HP.
Ditengah perjalanan, motor ojek yang saya naiki sempat tidak bisa berkutik ketika melewati jalanan becek dan menanjak. Akhirnya kami turun dari motor dan pak ojek mendorong motornya. Setelah sekitar 30 menit perjalanan menuju puncak, akhirnya tiba di puncak B29. Di lokasi tersebut masih terdapat warung yang menjual makanan seperti mie instan dan minuman hangat. Namun sayangnya tidak ada kamar mandi. Berbeda dengan sepanjang jalan menuju puncak, disini kabut menutupi pemandangan. Udaranya pun sangat dingin dan menusuk. Rasanya seperti berada didalam freezer, brrrrr.  Sambil menunggu yang lain tiba, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Hingga pukul 7 pagi, kabut tak kunjung hilang. Tukang ojek mengatakan bahwa kabut biasanya turun sekitar pukul 8 pagi. Jadi, kami memutuskan untuk menunggu sambil membeli minuman hangat dan makanan di warung yang ada di sekitar lokasi tersebut.Karena perjalanan semalam memang benar-benar panjang dan melelahkan kami memutuskan untuk tidur. Ya walaupun tidak bisa mengembalikan energi sepenuhnya, setidaknya bisa mengistirahatkan tubuh sejenak. 

Beberapa jam kemudian, Endar tiba-tiba muncul sambil ngos-ngosan. Ya, mereka yang memutuskan untuk berjalan akhirnya tiba di puncak. Yeah, akhirnya semua sudah tiba dipuncak. Tapi, kabut tak kunjung pergi. Jadi, semua masuk ke warung untuk membeli sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh, Sambil menunggu, kami bercerita tentang bagaimana perjalanan kami hari ini. Apalagi jika Imad yang bercerita, kami semua bisa tertawa tak henti-henti karena cerita, logat, dan ekspresinya yang lucu. Karena bosan, sekitar pukul 10 saya dan Irma memutuskan untuk berkeliling di sekitar warung kemudian kami naik ke puncak yang lebih tinggi. Imad membuntuti kami dibelakang. Di puncak B30 pun kabut masih betah menyelimuti kami. Hingga akhirnya Irma dan saya berputar-putar seperti orang gila, kami menyebutnya ritual mengusir kabut. Tak disangka, angin berhembus kencang dan perlahan kabut menghilang. Pemandangan cantik pun perlahan memperlihatkan dirinya. MasyaAllah, kami bisa melihat gunung Bromo dan Semeru dari sini. Memang benar sebutan desa diatas awan itu. Mereka yang masih tidurpun bangun dan beranjak ke puncak mengikuti kami.
Yah, sebagian besar dari kami selalu berkata "Akhirnya perjalanan yang panjang ini terbayar sudah". Tak berpikir lama kami berfoto-foto sebelum kabut menutupi lagi.




Sembari berfoto-foto, Ujik membawa sebuah terpal untuk beristirahat sambil menikmati pmandangan.
Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk turun dan kembali ke masjid tempat kami sholat subuh tadi. Sekitar pukul 11.45 kami tiba di masjid. Sambil menunggu adzan dzuhur, kami beristirahat. Kami tidur di masjid sekitar 4 jam. Setelah itu kami sholat ashar dan melanjutkan perjalanan pulang. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah Ujik, lagi. Tapi, Hans langsung menuju Surabaya karena ada janji, cieeee.Lanjut....Yaaa maafkan kami Ujik selalu merepotkanmu, hehe. Kami tiba pada pukul 19.30 . Lagi-lagi ibu Ujik menyediakan makanan. Nasi goreng dan teh hangat, ya cukup untuk mengganjal perut kami yang kelaparan. Sambil beristirahat lagi-lagi Imad stand up comedy yang membuat kami tertawa seakan tidak lelah lagi. Entahlah kenapa anak ini lucu sekali. Bahkan mendengar suaranya pun sudah membuat orang ingin tertawa, HAHA.

Setelah makan, minum, bercanda, semua tidur lelap seakan tak mendengar apa-apa. Karena saya dan Irma adalah satu-satuya cewek disitu, jadi kami tidur di kamar yang sudah disediakan ibu Ujik. Pukul 3 pagi saya mendengar ada yang mengetuk pintu kamar, saya terbangun lalu membangunkan Irma yang tidurnya sangat lelap. Lelap sekali sampai susah dibangunkan. Dasar Irma....
Pukul 3.15 kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Masih sangat ngantuk, tapi apa boleh buat. Pukul 5.00 kami berhenti disebuah masjid untuk sholat subuh. Setelah itu perjalanan berlanjut. Muka kami terlihat sangat lelah dan ngantuk, ya maklum saja kami hanya tidur sebentar. Saat langit sudah terang , kami berhenti di sebuah POM untuk mengisi bahan bakar. Kebetulan, ada bapak penjual gorengan, kami juga membeli untuk mengganjal perut. Perjalanan dilanjutkan kembali. Hingga saat di Sidoarjo kami semua berpencar alias kehilangan jejak. Saat membaca chat di grup yang kami buat, ternyata Firman mengalami kecelakaan dan harus dirawat di RS di Sidoarjo. Disaat yang sama ban motor Irma bocor, jadi saya, Alim, Irma, dan Khai menunggu ban tersebut ditambal. Endar, Pras, Ammar, dan Tatus menunggu di perbatasan Sidoarjo-Surabaya. Setelah ban selesai ditambal, kami menyusul kesana. Kondisi jalanan saat itu memang sangat padat merayap, maklum saja jam berangkat sekolah dan jam berangkat kerja. Setelah bertemu di perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu, kami berhenti dan beristirahat sejenak. Lalu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Ammar. Mereka yang masih di Rumah sakit menunggu Firman terpaksa kami tinggal. Maafkan, kami tunggu di rumah Ammar kok. Setelah sampai rumah Ammar , Irma langsung saja pulang duluan,begitupun saya dan Khai. Nah, entahlah bagaimana kelanjutannya. Tapi beberapa jam kemudian grup ramai dengan kata-kata "Sudah selamat sampai rumah rek","Terima kasih atas petualangannya, rek" . Sungguh melelahkan tapi tak terlupakan. Terima kasih teman-teman ^_^

2 komentar: